LPDP: Ketika Ridho Orang Tua Menentukan

Ridho orang tua memang salah satu hal yang sangat menentukan bagaimana sebagian besar jalan hidup saya terjadi! Begitu pun dengan kisah perburuan beasiswa yang saya lakukan. Saya tidak akan bercerita panjang lebar tentang apa yang saya alami, karena kisah ini bukanlah kisah yang memiliki ‘happy ending’, tapi semoga dapat menyadarkan kita semua akan satu faktor yang sangat menentukan jalan yang akan kita tapaki di kemudian hari.

Lanjut Kuliah?

Sebelum berkeinginan untuk melanjutkan kuliah, saya hanya ingin bersyukur karena saya mampu menyelesaikan pendidikan S1 saya karena saya tergolong orang yang (karena kondisi tak terduga saat itu) tidak mampu untuk bersekolah tinggi, bahkan saya hampir saja tidak mampu melanjutkan sekolah ke jenjang menengah pertama, tetapi terima kasih pada kedua orang tua saya yang mampu menjadi orang tua hebat sehingga sampai sekarang saya dapat mengenyam pendidikan yang layak 🙂 Banyak sekali drama tersembunyi dalam perjalanan pendidikan saya yang mana belum siap saya sampaikan 😀

Selepas S1 saya tidak memiliki biaya untuk melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, saya tidak punya pangkat untuk menjadikan suara saya didengar, karena lingkungan saya bukan lingkungan yang mau mendengarkan apa KONTEN dari ucapan saya, namun SIAPA saya. Saya tidak mempunyai kekuatan untuk merubah segala sesuatu yang sudah ada, yang saya mampu adalah mengamalkan ilmu yang saya miliki di bidang pendidikan untuk membantu mendidik mereka yang membutuhkan. Sepertinya “undzur ma qola wa laa tandzur man qola” belum berlaku di sini 🙂

LPDP?

Bermodal keinginan simple untuk melanjutkan sekolah ke jenjang berikutnya, saya pun mencoba mendaftar beasiswa LPDP. Saat itu informasi tentang LPDP masih sedikit dan alhamdulillah website LPDP sendiri sudah sangat membantu untuk mengikuti prosesnya. Saya pun mendaftar tanpa kendala dan orang tua saya saat itu mendukung apa yang saya lakukan.

Alhamdulillah, saya pun mendapatkan email yang berisi daftar nama yang lolos seleksi administrasi. Saya pun menghubungi orang tua saya yang berada di pulau seberang bahwa saya lolos seleksi ini. Saya pun bersiap untuk mengikuti seleksi wawancara yang saat itu dilaksanakan di Unair (karena saya memilih Surabaya sebagai lokasi wawancara saya).

Beberapa Hari sebelum Seleksi Lanjutan

Kira-kira kurang dari seminggu sebelum seleksi wawancara dan LGD berlangsung, saya mendapatkan telepon dari Ibu. Entah kenapa Ibu tiba-tiba berkata, “Lanjut kuliahnya gak bisa tahun depan aja ta, Kak?” Saya bingung dan terdiam, jelas bertanya-tanya kenapa Ibu tiba-tiba berubah pikiran untuk mendukung penuh keputusan saya sebelumnya. Saya hanya menjawab dan meminta ijin untuk tetap mengikuti seleksi wawancara LPDP gelombang ini, dan Ibu hanya berkata ringan, “iya.”

Pada saat itu memang ada sesuatu yang benar-benar membuat saya untuk tetap berada di tanah air bersama saudara saya satu-satunya.

Ketika Ridho Allah merupakan Ridho Ayah dan Ibu

Di hari berlangsungnya seleksi, saya mendapatkan giliran untuk melakukan LGD terlebih dahulu. Sampai tahap ini, saya masih merasa segalanya berjalan dengan lancar. Hari selanjutnya adalah hari untuk melakukan seleksi wawancara di mana saya mulai menemukan banyak kendala. Saya sudah dengan sangat berhati-hati untuk make sure kalau besok akan berjalan dengan lancar juga. Saya mendapatkan giliran di siang hari dan bertanya pada panitia apakah saya bisa datang sekitar 2-3 jam sebelum jadwal saya karena saya masih harus mengajar, dan mereka pun mengatakan dua jam sebelum jadwal yang ditentukan saya sudah harus berada di lokasi. Keesokan harinya, saya benar-benar tiba di lokasi 2.5 jam sebelum jadwal saya, namun yang saya dapati adalah tidak ada lagi peserta seleksi yang mengantri di luar ruang seleksi saya 🙂 Yaa Allah, kok gini? *runtuk dalam hati*

Saya pun bertanya pada peserta yang mengantri di luar ruangan sebelah, dan mereka mengatakan bahwa memang yang di ruangan saya sudah selesai semua tetapi interviewernya belum terlihat meninggalkan ruangan. Saat itu juga salah satu interviewer keluar ruangan (sepertinya psikolognya), dan saya bertanya apa masih bisa melakukan seleksi, saya pun dipersilahkan masuk.

Dalam ruangan wawancara, belum sempat saya duduk, saya sudah dilemparkan sebuah pertanyaan yang menohok oleh salah satu interviewernya, “Gak niat ya?” hehe itu makjleb sih waktu itu, tapi saya berusaha tenang dan menjalani proses wawancara yang kurang menyenangkan (karena interviewernya tampak ingin segera mengakhiri proses itu). Selepas wawancara, saya pun merasa saya sudah tahu hasilnya 🙂

Pengumuman

lpdp-pengumuman-tidak-lolos

Alhamdulillah, ternyata saya benar-benar tidak lolos seleksi wawancara saat itu 🙂

Sebaik apapun persiapan yang saya lakukan, ada faktor lain yang mampu mengubah segalanya dalam sekejap. Dalam hal ini, saya pun sangat sadar kalau ridho Ibu yang tidak diberikan saat itu sangatlah berpengaruh pada segala sesuatu yang terjadi dalam proses yang saya jalani. Pesan saya, jangan pernah mengesampingkan ridho Ayah dan Ibu, memang kita harus terus berusaha, namun ridho mereka sangatlah penting (selama itu semua tidak melanggar apa yang diperintahkan oleh Allah SWT). Memang, pelajaran yang datang dari kegagalan terkadang tidak mudah untuk diterima dan dipahami, namun, pasti ada sesuatu yang harus kita lalui sebelum mendapatkan sesuatu yang berharga. Semoga di tulisan selanjutnya saya sudah mampu menghadirkan akhir yang saya harapkan 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s