LPDP: Second Try

“Do not brood over your past mistakes and failures as this will only fill your mind with grief, regret and depression. Do not repeat them in the future.”

-Swami Sivananda


Masa Perenungan

Dalam coretan tentang beasiswa LPDP sebelumnya saya sempat bercerita tentang kegagalan saya mendapatkan beasiswa ini. Oke, kemarin gagal dan saya menenangkan diri untuk bersiap mengikuti tahap selanjutnya. Sayangnya, aturan LPDP bahwa yang tidak lolos seleksi wawancara harus menunggu selama dua periode sebelum dapat mendaftar kembali. Sembari menunggu, saya mencoba meyakinkan kembali orang tua saya (tentu saja dengan melihat situasi yang sudah sedikit membaik saat itu). Alhamdulillah, suara orang tua saya sudah bulat dan mereka mendukung sepenuhnya akan rencana saya untuk melanjutkan kuliah.

Setelah gagal mendapatkan beasiswa, tentu saja perasaan ini rasanya campur aduk. Namun, sebisa mungkin saya berusaha untuk merenungi apa yang terjadi. Saat itu orang tua saya membutuhkan saya, saat itulah saya sadar, kalau bukan saya ya siapa lagi?

Mencoba (lagi)

Ketika tiba saatnya untuk mencoba lagi, saya pun mengumpulkan dokumen yang sama dengan sedikit perubahan menyesuaikan dengan kegiatan saya enam bulan terakhir. Saya sangat yakin saya mampu melewati seleksi administrasi. Benar saja, ketika pengumuman hasil seleksi administrasi, saya menemukan nama saya dalam daftar peserta yang lolos seleksi wawancara. Saya kemudian menyampaikan berita ini pada kedua orang tua saya, dan responnya sangatlah baik πŸ™‚ alhamdulillah, sepertinya mereka sudah ridho untuk membiarkan saya berusaha melanjutkan kuliah dan mendukung penuh keputusan saya πŸ™‚

LGD dan Wawancara

Seperti sebelumnya, jadwal LGD dan wawancara saya tidak di hari yang sama, sehingga saya harus kembali ke lokasi keesokan harinya. Selain memberikan pelajaran bahwa ridho Ayah dan Ibu sangatlah penting, kegagalan sebelumnya secara tidak langsung membuat saya lebih siap menghadapi seleksi di periode ini. Anggap saja kegagalan kemarin sebagai latihan πŸ™‚

Alhamdulillah LGD berlangsung lancar dan teman sekelompok sempat bertemu sebelum proses LGD dan makan siang bersama di kantin Unair waktu itu setelah LGD selesai. Keesokan harinya, wawancara pun berlangsung. Karena tidak ingin kegagalan sebelumnya terulang, saya pun mengosongkan jadwal di hari itu, kebetulan juga jadwal wawancaranya pagi, alhamdulillah πŸ™‚

Sebelum masuk ke ruang wawancara, saya bertemu beberapa teman yang mendapatkan meja interview yang sama. Kami pun berbincang dan merasa tidak ingin kehilangan kontak satu sama lainnya mengingat kami sama-sama passionate di bidang masing-masing. Kami pun bertukar kontak dan masih berhubungan baik hingga sekarang, bahkan terkadang membahas project yang mungkin bisa dikerjakan bersama πŸ™‚ well, tidak ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini.

Saat di meja wawancara, saya sudah tidak merasa nervous sama sekali (entah karena siap berhasil atau siap gagal haha). Alhamdulillah proses wawancara berjalan lancar dan saya berusaha untuk menjawab semuanya dengan jujur dan sesuai dengan bidang dan kemampuan yang memang saya miliki. Saya merasa menjadi diri saya sendiri saat itu, tanpa perlu mencoba membuat para interviewer amaze dengan kemampuan atau karya saya. Satu hal yang saya ingat akan pertanyaan interviewer yang membuat saya menjawab dengan sedikit pasrah namun optimis πŸ™‚

“Apa yang akan kamu lakukan setelah nanti kembali dari menjalani studimu?”

saya pun mencoba realistis dengan kondisi yang memang saya alami dan menjawab,

“Sejujurnya saya ingin memperbaiki sistem pendidikan yang ada di negeri ini, namun saya tahu di mana batas kemampuan saya, saya akan kembali dan berusaha mendukung pembangunan pendidikan Indonesia dari bawah, dari dasar. Saya hanya mampu turun ke masyarakat dan mengamalkan ilmu yang saya miliki melalui pendidikan entah formal maupun informal. Karena pada dasarnya, generasi penerus lah yang perlu diperbaiki, bukan mereka yang sudah berada di atas sana.”

Jawaban itu pun mengakhiri proses wawancara hari itu.

Pengumuman (lagi)

Alhamdulillah! Terima kasih, Ayah, Ibu, atas doa dan dukungannya!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s